Bismillahirrahmanirrahim.
Bila duduk-duduk tadi teringat satu lagu. Raihan- Sifat 20. Lagu waktu zaman kanak-kanak nie. Saya download, dengar then selami maksud sifat 20 Allah. Subhanallah. Menitis air mata. Betapa jahil saya tentang sifat Allah.
Allah bersifat iradah dan muridan. Penentu dan menentukan. Segala yang ditentukanNya untuk kita adalah yang terbaik untuk kita. Selama ini kita selalu rasa yang apa yang kita pilih merupakan pilihan yang terbaik untuk diri kita sendiri. Tapi kita lupa, Allah Maha Pengasih. Kasih sayangNya melebihi kemurkaanNya. Kalau saya tak dapat apa yang saya hajati mesti ada sebabnya. Husnul dzon pada Allah.
"Jika Allah memakbulkan doamu, maka Allah meneguhkan kepercayaanmu kepadaNya, jika Allah menangguhkan doamu, maka Allah menguji kesabaranmu, jika Allah tidak memakbulkan doamu, maka Allah telah merancang sesuatu yang lebih baik buatmu".
Disebabkan kecintaan pada dunia, kita selalu lupa untuk bertawakal kepada Allah. Berusaha sehingga melampaui batas. Kadang-kadang berusaha sampai melanggar hukum syara’. Lupa dengan syariat islamiyah. Subhanallah.
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” (At-Thalaaq: 3)
Sebagai manusia biasa memang susah untuk bertawakal. Kurangnya keyakinan kita padaNya yang menyebabkan kita selalu rasa tak tenang. Takut. Tapi kita lupa yang tawakal akan membangkitkan kekuatan dalam diri dan kesedaran roh sehingga kita akan rasa perkara-perkara yang berat tu menjadi ringan.
Tapi tak boleh jugak kalau kita bertawakal tapi tak berusaha. Tawakal mesti disertakan dengan usaha. Tapi kita selalu lupa. Selalu kita berusaha dulu, akhir sekali baru kita doa. Hmm. Saya pun macam tu. Tapi sepatutnya kita letakkan Allah pada tempat no 1. Apa-apa yang kita buat, baik atau buruk kita ingat Allah dulu. Doa tu penting. Doalah apa yang bakal kita usahakan tu adalah yang terbaik untuk diri, agama, akhirat dan kehidupan kita.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)
Saya sedang belajar untuk bertawakal. Bukan senang. Kadang-kadang keyakinan saya rapuh. Bukan saya tak meyakini kekuasaan Allah. Tapi saya tak meyakini diri sendiri. Saya terlampau takut, terlampau bergantung dengan dunia dan isinya, terlampau mengejar sangat sesuatu yang belum tentu milik saya, sesuatu yang belum tentu membawa kebaikan pada diri, agama, kehidupan dan urusan saya.
Ya Allah, jangan Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun sesaat. Tadbirku seluruh dan sepenuh sujud pada takdirMu.
Saya masih lagi bermujahadah. Berusaha membaiki diri. Sekarang kalau saya takut, terlampau bergantung dengan manusia, selalu rasa tak diperlukan dan ditinggalkan, saya akan ingat kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail yang ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir yang kering kontang. Betapa bertawakalnya Siti Hajar yang ditinggalkan sebab dia yakin Allah tidak akan mensia-siakannya. Betapa tabahnya dia bila Nabi Ibrahim ingin menyembelih puteranya, Nabi Ismail. Subhanallah. Ingin sangat mempunyai kekuatan dan ketabahan macam Siti Hajar.
Tawakal saya hanya pada Allah. Doa saya hanya padaNya. Semuanya dah tertulis di Luh Mahfudz. Sekarang adalah masa rapatkan diri dengan Allah. Apa yang ditakdirkan untuk kita adalah cermin kepada sifat dan akhlak kita.
“Peliharalah Allah, pasti Allah memeliharamu. Peliharalah Allah, pasti kamu mendapatiNya bersamamu. Bila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan Allah. Ketahuilah, sekiranya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan sekiranya seluruh umat berkumpul untuk melakukan bencana ke atasmu, maka mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan kertas pun telah kering.” (H.R Tirmidhi daripada Ibnu Abbas)
Ingin tenang dan tak kecewa? Jangan mengharap apapun dari manusia. Cukuplah dari Allah. Kita sering berharap kepada makhluk yangg tak ada apa-apa dan yang tak berdaya tanpa izin Allah. Maka hati akan resah dan banyak kecewa. Ya sahabat. Saya ingat pesan awak. Hasbunallahu wani’mal wakil – cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik
Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas agamaMu
Ya muqallib al-qulub, thabbit ‘ala’l-haqq
Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas kebenaranMu
Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala ta’atik
Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini dgn taat padaMu
No comments:
Post a Comment